Crash
1987
Black
Monday Part I…
Merosotnya
Saham di Wall Street dimulai sejak 17 Agustus 1987.Indeks Harga saham di Wall
Street mengalami kemerosotan sebagai berikut:
17 Agustus
1987 2.701
18 Agustus
1987 2.655
25 Agustus
1987 2.722
28 Agustus
1987 2.639
31 Agustus
1987 2.663
3
September1987 2.559
9 September
1987 2.549
14 September
1987 2.613
21 September
1987 2.493
23 September
1987 2.586
28 September
1987 2.602
5
Oktober 1987 2.640
6 Oktober
1987 2.549
7 Oktober
1987 2.551
12 Oktober
1987 2.471
13 Oktober
1987 2.508
14 Oktober
1987 2.413
15 Oktober
1987 2.355
16 Oktober
1987 2.247
19 Oktober 1987 1.738
20 Oktober
1987 1.840
21 Oktober
1987 2.024
22 Oktober
1987 1.947
23 Oktober
1987 1.948
Teriakan
“jual…jual…..jual” terdengar bersahut-sahutan dari orang yang bergerombol-gerombol
di depan layar monitor.detik demi detik angka-angka yang cepat sekali berubah
dipelajari dengan seksama.Sesekali terdengar helaan napas berat dan gelisah.
Kepala
keamanan jembatan Brooklyn dan Manhattan,New York,belum mencabut perintah siaga
penuh kepada anak buahnya.Setiap gerak gerik pelintas jembatan East River
–berjalan kaki atau berkendaraan-diawasi secara ketat. Maklumlah,sungai itu
belakangan terasa menggoda penduduk New
York yang dilanda putus asa.
Resesi,Depresi.Dua
kata itu yang paling sering diucapkan orang menyambut rontoknya harga saham
dalam minggu-minggu ini.Sebab begitu Wall Street terserang demam yang lain ikut
meriang.Stock Exchange of London,pasar modal terbesar di Inggris,tanda Fast Market muncul berkali-kali setiap hari didepan papan
elektronik.Artinya,para pialang diharapkan jangan mengandalkan harga-harga yang
muncul,karena papan itu tak sanggup lagi mengikuti kecepatan gejolak harga yang
terjadi.
Di
Singapura,jaringan telepon di Central Business District macet sampai menjelang
sore saking banyaknya orang berbicara.Sementara itu,para pegawai kantor-kantor
pialang terpaksa mengusiri para kliennya yang terus mengerubut.Jam kantor
sampai molor.
Tanggal
19 Oktober 1987 pun kemudian disebut sebagai “Black Monday/Senin Hitam”
Menurut
indeks yang mewakili 30 saham perusahaan terkemuka di Amerika Serikat itu harga
saham rontok 508 point atau 22,6 % dari harga semula.Percentage ini hampir dua
kalinya angka bersejarah,12,9% yang terbetik 28 Oktober 1929.
Dow Jones
Industrial Average Index mengumumkan sebuah berita pembantaian harga
saham.Nyali pedagang dan pemilik saham langsung ciut.
Beberapa
perusahaan jual beli saham langsung “menjual diri”.Salah satu diantaranya adalah AB Tompane & Co.Perusahaan yang
selama ini bermain dengan saham perusahaan-perusahaan raksasa seperti Royal Dutch petroleum,US
Steel,Sterling Drug itu pekan lalu dijual kepada Merryl Lynch Co.Betapapun
tangguhnya perusahaan-perusahaan spesialis semacam Tompane,menurut John
Phelan,Presiden NYSE,tak akan sanggup menghadapi malapetaka tersebut.Dalam
tempo sehari 52 perusahaan spesialis itu menanggung kerugian 750 juta
dollar.Beberapa hari kemudian kerugian mereka mungkin sudah mencapai satu
trilyun dollar.
Situasi
runyam itu memaksa Presiden Ronald Reagan muncul di televisi.Yakin betul
Presiden Amerika Serikat itu berujar,”Jangan panic,ekonomi kita masih membaik”
Tetapi
kepanikan tak bisa dibendung dengan satu kalimat.Pasar-pasar modal,dari
Tokyo,Hongkong,Singapura,London,Paris,Sydney sampai Afrika Selatan meledak.
Bagaimana dengan Pasar
Modal Jakarta?
Jatuh
bangunnya harga saham New York terasa
diseluruh dunia.Terutama oleh Negara-negara yang pasar modalnya berhubungan
langsung atau tidak langsung dengan Amerika.Apalagi dalam lima tahun terakhir terjadi “globalisasi”pasar
saham-mengikuti proses yang terjadi sebelumnya dalam perdagangan mata uang dan
jual beli obligasi pemerintah.
Bertambah
banyaklah dana yang dikelola lembaga-lembaga
seperti yayasan dana pensiun yang dimanfaatkan untuk membeli saham di luar
negeri.Teknologi komunikasi dan Informasi makin mendekatkan jarak dan waktu
antara pasar modal disuatu negeri dan pembeli di negeri lain.Maka bila NYSE
bersin,pasar modal Negara lain mudah terserang flu.
Pasar
modal Indonesia tidak terlalu terpengaruh akibat BlackMonday ,ini karena bursa masih dikelola secara intern,menurut
Barli Halim,ketua Bapepam,pasar modal di Indonesia masih tertutup-belum
diinternasionalisasikan.Transaksi juga tidak melibatkan bank sehingga
likuiditas bankpun tak terpengaruh.Jadi Pasar modal Jakarta masih adem ayem.
Tetapi,sebuah
undang-undang tentang pasar modal sedang disusun,agar bursa itu hiruk
pikuk.Investor asing nantinya boleh terjun.Juga nantinya tidak akan lagi
dikendalikan lagi oleh PT Danareksa.”Pokoknya,kita akan menuju ke pasar modal
ala Wall Street,”kata sebuah sumber Tempo
(Sumber:Wall Street Mengerek Bendera
Hitam,Tempo 31 Oktober 1987)
Komputer di Pasar Banteng dan
Beruang,Tempo 31 Oktober 1987
(Sumber :Skandal Saham :Bisnis dan Politik , Kompas 30 Desember 1988)
(Sumber :Skandal Saham :Bisnis dan Politik , Kompas 30 Desember 1988)









No comments:
Post a Comment