Thursday, May 22, 2008

CRASH 1987-BLACK MONDAY 19 OKTOBER 1987



Crash 1987


Black Monday Part I…

Merosotnya Saham di Wall Street dimulai sejak 17 Agustus 1987.Indeks Harga saham di Wall Street mengalami kemerosotan sebagai berikut:
17 Agustus 1987        2.701
18 Agustus 1987        2.655
25 Agustus 1987        2.722
28 Agustus 1987        2.639
31 Agustus 1987        2.663
3 September1987       2.559
9 September 1987      2.549
14 September 1987    2.613
21 September 1987    2.493 
23 September 1987    2.586
28 September 1987     2.602
5 Oktober  1987          2.640
6 Oktober 1987           2.549
7 Oktober 1987           2.551
12 Oktober 1987         2.471        
13 Oktober 1987         2.508
14 Oktober 1987         2.413
15 Oktober 1987         2.355
16 Oktober 1987         2.247
19 Oktober 1987         1.738
20 Oktober 1987         1.840
21 Oktober 1987         2.024
22 Oktober 1987         1.947
23 Oktober 1987         1.948

Teriakan “jual…jual…..jual” terdengar bersahut-sahutan dari orang yang bergerombol-gerombol di depan layar monitor.detik demi detik angka-angka yang cepat sekali berubah dipelajari dengan seksama.Sesekali terdengar helaan napas berat dan gelisah.


Kepala keamanan jembatan Brooklyn dan Manhattan,New York,belum mencabut perintah siaga penuh kepada anak buahnya.Setiap gerak gerik pelintas jembatan East River –berjalan kaki atau berkendaraan-diawasi secara ketat. Maklumlah,sungai itu belakangan terasa menggoda penduduk New York yang dilanda putus asa.

Resesi,Depresi.Dua kata itu yang paling sering diucapkan orang menyambut rontoknya harga saham dalam minggu-minggu ini.Sebab begitu Wall Street terserang demam yang lain ikut meriang.Stock Exchange of London,pasar modal terbesar di Inggris,tanda Fast Market  muncul berkali-kali setiap hari didepan papan elektronik.Artinya,para pialang diharapkan jangan mengandalkan harga-harga yang muncul,karena papan itu tak sanggup lagi mengikuti kecepatan gejolak harga yang terjadi.
Di Singapura,jaringan telepon di Central Business District macet sampai menjelang sore saking banyaknya orang berbicara.Sementara itu,para pegawai kantor-kantor pialang terpaksa mengusiri para kliennya yang terus mengerubut.Jam kantor sampai molor.
Tanggal 19 Oktober 1987 pun kemudian disebut sebagai “Black Monday/Senin Hitam”
Menurut indeks yang mewakili 30 saham perusahaan terkemuka di Amerika Serikat itu harga saham rontok 508 point atau 22,6 % dari harga semula.Percentage ini hampir dua kalinya angka bersejarah,12,9% yang terbetik 28 Oktober 1929.
Dow Jones Industrial Average Index mengumumkan sebuah berita pembantaian harga saham.Nyali pedagang dan pemilik saham langsung ciut.
Beberapa perusahaan jual beli saham langsung “menjual diri”.Salah satu diantaranya  adalah AB Tompane & Co.Perusahaan yang selama ini bermain dengan saham perusahaan-perusahaan  raksasa seperti Royal Dutch petroleum,US Steel,Sterling Drug itu pekan lalu dijual kepada Merryl Lynch Co.Betapapun tangguhnya perusahaan-perusahaan spesialis semacam Tompane,menurut John Phelan,Presiden NYSE,tak akan sanggup menghadapi malapetaka tersebut.Dalam tempo sehari 52 perusahaan spesialis itu menanggung kerugian 750 juta dollar.Beberapa hari kemudian kerugian mereka mungkin sudah mencapai satu trilyun dollar.
Situasi runyam itu memaksa Presiden Ronald Reagan muncul di televisi.Yakin betul Presiden Amerika Serikat itu berujar,”Jangan panic,ekonomi kita masih membaik”
Tetapi kepanikan tak bisa dibendung dengan satu kalimat.Pasar-pasar modal,dari Tokyo,Hongkong,Singapura,London,Paris,Sydney sampai Afrika Selatan meledak.

Bagaimana dengan Pasar Modal Jakarta?
Jatuh bangunnya harga saham New York terasa diseluruh dunia.Terutama oleh Negara-negara yang pasar modalnya berhubungan langsung atau tidak langsung dengan Amerika.Apalagi dalam lima tahun terakhir terjadi “globalisasi”pasar saham-mengikuti proses yang terjadi sebelumnya dalam perdagangan mata uang dan jual beli obligasi pemerintah.
Bertambah banyaklah  dana yang dikelola lembaga-lembaga seperti yayasan dana pensiun yang dimanfaatkan untuk membeli saham di luar negeri.Teknologi komunikasi dan Informasi makin mendekatkan jarak dan waktu antara pasar modal disuatu negeri dan pembeli di negeri lain.Maka bila NYSE bersin,pasar modal Negara lain mudah terserang flu.
Pasar modal Indonesia tidak terlalu terpengaruh akibat BlackMonday ,ini karena bursa masih dikelola secara intern,menurut Barli Halim,ketua Bapepam,pasar modal di Indonesia masih tertutup-belum diinternasionalisasikan.Transaksi juga tidak melibatkan bank sehingga likuiditas bankpun tak terpengaruh.Jadi Pasar modal Jakarta masih adem ayem.
Tetapi,sebuah undang-undang tentang pasar modal sedang disusun,agar bursa itu hiruk pikuk.Investor asing nantinya boleh terjun.Juga nantinya tidak akan lagi dikendalikan lagi oleh PT Danareksa.”Pokoknya,kita akan menuju ke pasar modal ala Wall Street,”kata sebuah sumber Tempo
(Sumber:Wall Street Mengerek Bendera Hitam,Tempo 31 Oktober 1987)
             Komputer di Pasar Banteng dan Beruang,Tempo 31 Oktober 1987

 (Sumber :Skandal Saham :Bisnis dan Politik , Kompas 30 Desember 1988)











Read this doc on Scribd: KRISIS 1987

No comments: